Semarang, 19 November 2025 – Program Studi Pendidikan Non Formal (PNF), Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP), Universitas Negeri Semarang (UNNES) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pengembangan Kurikulum Outcome Based Impactful Curriculum (OBsic)”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Prodi PNF ini bertujuan untuk menyelaraskan kurikulum akademik dengan kebutuhan riil di dunia kerja dan masyarakat.

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Koordinator Program Studi (Koorprodi) PNF UNNES, Dr. Mintarsih Arbarini, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya pengembangan kurikulum yang adaptif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melengkapi sambutan tersebut, Bagus Kisworo, M.Pd., memberikan penjelasan teknis mengenai kurikulum OBsic yang harus berorientasi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan terintegrasi erat dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
FGD ini menghadirkan dua narasumber pakar dari unsur praktisi, yaitu Dra. Istichomah, M.Si. (Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang) dan Imam Roos Wahyudi, M.Pd. (Kepala SPNF SKB Ungaran Kabupaten Semarang).

Sinergi dengan Program Pemberdayaan Sosial
Dra. Istichomah, M.Si., selaku Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang, memberikan apresiasi tinggi terhadap rancangan kurikulum yang disusun oleh tim pengembang prodi. Beliau mengungkapkan bahwa setelah menelaah draf kurikulum prodi PNF UNNES, dirinya menyadari adanya kecocokan yang sangat besar antara materi akademik yang diajarkan dengan kebutuhan kompetensi di lapangan, khususnya di instansi kedinasan sosial.
“Kami melihat banyak sekali titik temu antara kurikulum PNF dengan kebutuhan riil di Dinas Sosial. Mata kuliah seperti Pemberdayaan Masyarakat, Pekerjaan Sosial, hingga Dinamika Kelompok sangat relevan dengan tugas pokok dan fungsi kami di pemerintahan,” ujar Istichomah.
Lebih lanjut, beliau menyoroti pentingnya lulusan PNF memiliki kompetensi spesifik dalam pemberdayaan disabilitas, pendampingan anak berhadapan dengan hukum, hingga keterampilan tanggap bencana (Tagana). Beliau juga memberikan masukan terkait kebutuhan besar pada pendidikan keterampilan care giver khusus untuk lansia dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), serta penguasaan bahasa isyarat agar lulusan memiliki dampak langsung (impactful) bagi masyarakat.
Penguatan Manajemen dan Literasi Digital
Senada dengan hal tersebut, Imam Roos Wahyudi, M.Pd., dari SKB Ungaran memberikan masukan krusial terkait kompetensi manajerial. Menurutnya, lulusan PNF perlu dibekali kemampuan penyusunan rencana strategis (renstra) dan manajemen keuangan lembaga.
“Selain pengetahuan PAUD yang diperkuat, literasi digital dan pendidikan karakter menjadi kunci agar lulusan siap pakai di program-program pemerintah. Kami juga mendorong adanya riset terapan yang dapat diimplementasikan langsung di binaan desa,” ungkap Imam Roos Wahyudi.
Kolaborasi Strategis Akademisi dan Praktisi
Diskusi berlangsung hangat dengan masukan dari para guru besar dan dosen PNF UNNES. Prof. Fakhruddin menekankan pentingnya kolaborasi terstruktur dalam bentuk penelitian dan pengabdian yang selaras dengan kebutuhan lapangan. Sementara itu, Ibu Tri Suminar memberikan catatan penting mengenai integrasi etika dalam mata kuliah kurikulum baru ini.
Melalui FGD ini, Prodi PNF FIPP UNNES berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan mempertajam kurikulum agar tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga mampu mencetak profil lulusan yang kompeten, adaptif, dan mampu memberikan dampak nyata dalam menyelesaikan persoalan pendidikan dan sosial di masyarakat.
