Narasumber menyampaikan paparan dalam Simposium Regional Pendidikan Nonformal di Aula Dekanat FIPP UNNES, Semarang, Selasa (4/8/2026). Kegiatan diikuti 80 peserta perwakilan PKBM se-Jawa Tengah. Foto: Dok. Prodi PNF FIPP UNNES.
Semarang, 4 Agustus 2026
Program Studi Pendidikan Nonformal Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang (PNF FIPP UNNES) mempertemukan akademisi dan praktisi pendidikan masyarakat dalam Simposium Regional di Aula Dekanat FIPP UNNES, Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini diikuti 80 peserta perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Jawa Tengah.
Simposium bertajuk “Sinergitas Praktisi dan Akademisi dalam Menyongsong Tantangan Masa Depan Pendidikan Nonformal di Jawa Tengah” tersebut menjadi ruang berbagi gagasan mengenai pembelajaran kesetaraan, transformasi digital, penguatan tata kelola PKBM, dan kemitraan antara perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan nonformal.
Dua narasumber hadir dalam kegiatan ini, yaitu Ketua Harian Dewan Pembina DPP Asosiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (ASTINA) Dr. Fauzi Eko Pranyono, M.Pd.; Sekretaris Jenderal Ikatan Akademisi Pendidikan Nonformal Indonesia (IKAPENFI) Dr. Bagus Kisworo, S.Pd., M.Pd.; serta Ketua Forum Komunikasi PKBM Jawa Tengah Tuslihah, S.E., M.M.
Mendorong Pembelajaran Kesetaraan yang Bermakna
Fauzi mengangkat realitas pendidikan kesetaraan yang semakin beragam. Warga belajar tidak hanya berasal dari kelompok anak tidak sekolah, tetapi juga orang dewasa yang belum menuntaskan pendidikan dasar dan menengah. Di sisi lain, tutor masih menghadapi beban administrasi yang dapat mengurangi waktu pendampingan kepada warga belajar.
Menurut Fauzi, pendidikan kesetaraan harus bergerak dari sekadar schooling menuju learning. Pembelajaran perlu dirancang secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Materi tidak berhenti pada penyelesaian buku teks, tetapi dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, keterampilan kerja, pemecahan masalah, serta kesempatan bagi peserta untuk memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan proses belajarnya.
Pemanfaatan teknologi juga perlu diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif. Papan interaktif digital, misalnya, tidak hanya digunakan sebagai proyektor satu arah, tetapi dapat mendukung gamifikasi, eksplorasi kontekstual, dan kolaborasi antarpeserta.
“AI harus menjadi co-pilot, bukan autopilot. Tutor tetap menjadi nahkoda yang mengendalikan logika, empati, dan konteks pembelajaran,” tegas Fauzi.
Menjembatani Kampus dan Kebutuhan Masyarakat
Bagus menempatkan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan nonformal sebagai dua unsur yang saling membutuhkan. Perguruan tinggi berperan sebagai pusat inovasi akademik, penelitian, dan penyiapan tenaga kependidikan profesional. PKBM dan satuan PNF lainnya menjadi laboratorium praktik yang memahami persoalan serta potensi masyarakat secara langsung.
Pertukaran pengetahuan dan pengalaman perlu berlangsung secara berkelanjutan agar hasil penelitian semakin relevan dan praktik lapangan berkembang berdasarkan bukti. Keberhasilan program PNF juga tidak cukup diukur dari jumlah pendaftar, tetapi dari penerimaan masyarakat, kepuasan peserta, kesesuaian dengan kebutuhan lokal, rasa memiliki komunitas, dan keberlanjutan dampaknya.
Perspektif praktisi yang dibawa Tuslihah memperkuat pentingnya inovasi yang realistis dan sesuai dengan kapasitas satuan pendidikan. Transformasi digital tidak cukup berhenti pada pengadaan perangkat, tetapi harus meningkatkan kualitas pengalaman belajar sekaligus memperkuat tata kelola lembaga.
Kerja Sama Berkelanjutan Setelah Simposium
Simposium dirangkaikan dengan penandatanganan Implementation Arrangement (IA) antara PKBM dan Prodi PNF FIPP UNNES, gelar karya hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa serta dosen, dan gelar karya PKBM se-Jawa Tengah. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kemitraan tidak hanya berhenti sebagai gagasan, tetapi mulai diwujudkan melalui kegiatan bersama.
Tindak lanjut yang dapat dikembangkan mencakup pembentukan forum kerja UNNES dan PKBM, pendampingan tutor mengenai pembelajaran mendalam dan pemanfaatan AI yang etis, proyek percontohan pembelajaran kontekstual, supervisi mutu yang sederhana, serta riset kolaboratif berbasis kebutuhan warga belajar. Hasilnya diharapkan dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang didukung data partisipasi, ketuntasan belajar, kompetensi lulusan, dan kebermanfaatan program bagi masyarakat.
Melalui simposium ini, Prodi PNF FIPP UNNES menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis lembaga pendidikan nonformal di Jawa Tengah. Masa depan PNF tidak ditentukan oleh teknologi semata, tetapi oleh kualitas hubungan antara tutor, warga belajar, lembaga, perguruan tinggi, dan pemerintah dalam menghadirkan layanan belajar yang relevan serta memulihkan harapan masyarakat.
